What's News
Tampilkan postingan dengan label Krisis Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Krisis Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Oktober 2015

Jhon D Murphy

Berita Hari Ini - Bagaimana Nasib Rupiah Setelah Harga BBM Di Turunkan ?

Rupiah Saat Ini Tengah Melemah

Berita Hari ini - Pengamat Valas, Farial Anwar mendukung penuh langkah Presiden Joko Widodo (Jokowi) menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium dan Solar di saat perekonomian nasional sedang terguncang. Hanya saja, kebijakan ini tak akan mampu menolong nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). 

"Saya mendukung sekali harga BBM turun karena ekonomi sedang sulit, masyarakat sedang susah, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) merajalela. Kalau BBM turun, daya beli masyarakat meningkat, industri terbantu karena biaya produksi turun," ujar dia saat dihubungi Liputan6.com, Jakarta, Minggu (4/10/2015). 

Namun demikian, Farial mengatakan, dampak penurunan harga BBM tidak akan langsung terasa, seperti ongkos transportasi maupun penurunan harga barang atau produk. Pasalnya dia bilang, Indonesia masih tertekan dengan penguatan dolar AS lantaran peranan dolar AS dalam ongkos produksi industri di dalam negeri cukup besar, untuk impor bahan baku.

"Tapi memang tidak ada alasan buat pemerintah masih menahan harga BBM, karena harga minyak dunia sudah turun. Ini paling aneh karena Pertamina beralasan kurs rupiah melemah. Harga BBM kita saja masih yang paling mahal dibanding negara lain," terangnya. 

Farial menjelaskan, meskipun harga BBM turun, kurs rupiah tetap akan terkapar. Alasannya, kata dia, permintaan dolar AS di dalam negeri terus meningkat, sementara suplai tidak mencukupi.

"Harga BBM ke rupiah tidak akan berdampak apa-apa, rupiah tetap teler karena di pasar uang, permintaan dolar AS jauh lebih besar dibanding suplai, contohnya PT Pertamina yang setiap hari borong dolar AS untuk impor minyak," paparnya. 

Parahnya lagi, sambung dia, akibat fenomena super dolar AS, semua orang ingin membeli dan menggenggam mata uang negara Paman Sam itu. Bukan saja untuk investasi, tapi juga membayar utang luar negeri dan sebagainya.  

"Jadi kalau harga BBM turun, sentimen positif ke rupiah tidak ada. Yang pasti bisa menolong masyarakat yang sedang mengalami kesulitan, karena harga barang naik cukup lama," pungkas Farial.

Jumat, 02 Oktober 2015

Jhon D Murphy

Krisis Ekonomi - Meski Sulit Pertamina Siap Turunkan Harga BBM, Jika Presiden Jokowi Mengkehendakinya

Krisi Ekonomi - Presiden Joko Widodo meminta PT Pertamina (Persero) unutk mengkaji kemungkinan harga BBM premium diturunkan. BUMN minyak tersebut menyatakan siap mengikuti arahan Jokowi.

Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang mengatakan, menurunkan harga jual Premium yang belum sesuai dengan harga beli (keekonomian) merupakan hal yang sulit. Meski begitu, Pertamina siap mengikuti arahan Presiden.

"Kami akan ikuti. Sulit sih memang sulit," kata Bambang saat diwawancarai oleh tim Liputan6.com, di Jakarta, Jumat (2/10/2015).

Bambang mengungkapkan, untuk menekan kerugian yang membengkak jika harga Premium diturunkan, Pertamina akan menggenjot efisiensi. Saat ini, harga Premium Rp 7.300 per liter untuk wilayah penugasan atau luar wilayah Jakarta, Madura dan Bali (Jamali) dan Rp 7.400 per liter untuk luar wilayah penugasan yang meliputi Jamali.

"Tapi kami harus lakukan melalui berbagai efisiensi yg besar lagi untuk menekan kerugian," tuturnya.

Presiden Joko Widodo dalam Rapat Terbatas di Istana Kepresidenan yang digelar Kamis (1/10/2015) siang, meminta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan PT Pertamina (Persero) untuk mengkaji ulang harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Jokowi berharap adanya penurunan harga BBM, terutama jenis Premium dan Solar.

"Berkaitan dengan BBM dihitung lagi, Pertamina, meskipun kemarin sudah diumumkan oleh menteri ESDM dalam keadaan negara membutuhkan. Tolong dihitung lagi, apakah masih mungkin Premium itu diturunkan meskipun hanya sedikit," kata Jokowi di Istana Kepresidenan, Jakarta.